SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA MA MUALLIMIN NW PANCOR

          Niat awal pendiri memberantas manusia dari unsur kebodohan umat baik dunia maupun akhirat, yakni dengan mencerdaskan warga agar melek terhadap kebutuhan zaman dan mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman yang berasaskan Iman dan Taqwa. Dengan demikian, pada tanggal 17 Agustus 1936 Masehi berdirilah NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah) dengan durasi belajar selama 6 tahun khusus bagi kaum pria. Setahun kemudian madrasah ini diresmikan menjadi lembaga pendidikan formal yaitu pada tanggal 22 Agustus 1937 Masehi. Bapak TGKH Muh. Zainuddin Abdul Majid sebagai pendiri memiliki harismatik dan kecerdasan yang patut diteladani.  Namun seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan regulasi dari pemerintah madrasah ini dibagi menjadi dua tingkatan yakni MTs. Muallimin Nahdaltaul Wathan dan MA Muallimin NW. Perubahan tersebut terjadi pada tahun 1988.  Dinamika perkembangan MA Muallimin telah melakukan revolusi terhadap proses belajar melalui perpaduan kurikulum pemerintah dan kurikulum pondok. Penanaman “learning Process”  dengan dibungkus motto” Pacu Gamaqne” sebagai pemicu untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas peserta didik dan pendidik agar mampu menjadi kompetitor bagi yang lainnya.

          Wasilah yang sangat berarti terhadap penempaan kecerdasan secara intelektual, emosional, dan spiritual dapat diperoleh pada madrasah ini, sebab substansi materi yang diajarkan bukan hanya menekankan pada ilmu umum saja tapi juga pendalaman ilmu agama dengan rutinitas membaca warisan kumpulan doa (Hizib). Untuk memperkuat inner journey seruan dan ajakan membaca hizib tetap digalakkan. Oleh karena itu, peningkatan kualitas peserta didik dan pendidik merupakan scale priority melalui” Mind, Wisdom, dan Surrender. Sehingga pemberdayaan terhadap mind, wisdom , dan surrender tersebut disinergikan dengan hukum segi tiga kungruen yakni ada keseimbangan antara perilaku dan nilai dalam aksi dan bereaksi. Justru itu sasaran tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan tapi juga moral jauh lebih penting. Sebagai realisasi dari success story tersebut pembenahan secara indogen dan eksogen mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi senantiasa diwarnai dengan iman dan taqwa bersama superteam bukan superman bermodalkan” Nahdaltul Wathan Filhaer Nahdlatul Wathan Fastabikul Khaerat”